Friday, 21 September 2018

KEHIDUPAN SOSIAL SEBAGAI OBJEKTIVITAS, KEMAJEMUKAN MASYARAKAT

Kehidupan Sosial Budaya

Pada hakikatnya manusia sebagai mahkluk individu, makhluk sosial, dan makhluk berbudaya. Sebagai makhluk yang berbudaya, manusia dapat mengembangkan potensi dirinya, berinteraksi, dan mampu mengelola lingkungannya. Ketika kita mengamati kehidupan sosial di lingkungan masyarakat sekitar, apa yang kita lihat dan kita amati dapat dijadikan bahan kajian sosiologi. Hal ini karena dari kehidupan tersebut terdapat berbagai gejala atau fenomena sosial yang merupakan objek kajian sosiologi. Dengan demikian, hasil kajian tersebut dapat dijadikan dasar acuan untuk mencari pemecahan berbagai masalah yang timbul.

Objek kajian sosiologi yang terdapat di sekeliling kehidupan kita meliputi berbagai hasil tindakan yang berbentuk tindakan asosiatif maupun tindakan disosiatif. Tindakan-tindakan yang asosiatif, di antaranya akomodasi, kerja sama, gotong royong, musyawarah, dan asimilasi. Adapun tindakan yang termasuk disosiatif, antara lain persaingan, kontravensi, dan konflik (pertentangan).

Dari fenomena tersebut, kita dapat melakukan kajian sosiologis dan kemudian dapat diambil beberapa pertanyaan. Mengapa fenomena-fenomena tersebut terjadi? Apa yang menjadi faktor penyebabnya? Bagaimana cara mencegah masalah tersebut? Jika kita telah mengetahui dan mengkaji masalahnya, dapat dikatakan kita telah peduli dengan lingkungan di sekitar kita.

Dalam kehidupan masyarakat, muncul berbagai permasalahan sosial. Untuk menyikapi hal itu, kita hendaknya bersikap positif, tenggang rasa, kerja sama, solidaritas, dan toleransi. Kehidupan sosial masyarakat yang dapat dijadikan sebagai kajian sosiologi, misalnya kemajemukan masyarakat dan kesenjangan sosial.

Kemajemukan Masyarakat
Masyarakat Indonesia terbagi atas kelompok-kelompok. Tiap kelompok masyarakat memiliki pola perilaku, adat, agama, dan budaya yang berbeda. Hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai ras dan suku bangsa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dengan demikian, secara realita menghasilkan kemajemukan masyarakat

Kemajemukan masyarakat di Indonesia dapat dilihat secara horizontal dan vertikal. Kemajemukan secara horizontal, antara lain dapat dilihat dari beragamnya ras, suku bangsa, dan agama. Adapun secara vertikal dapat dilihat dari pelapisan sosial masyarakat.


Ada beberapa faktor pendorong atau penyebab terbentuknya kemajemukan masyarakat Indonesia, yaitu sebagai berikut.
1. Keadaan geografis Indonesia
Dari jejak sejarah diketahui bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan, yaitu suatu wilayah di Tiongkok bagian selatan. Mereka datang secara bergelombang dalam waktu dan jalur yang berbeda. Sampai di Indonesia, mereka menyebar dan mendiami sekitar 13.600 pulau. Kondisi geografis yang terpisah-pisah mengakibatkan penduduk yang menempati satu pulau atau sebagian pulau tumbuh menjadi kesatuan-kesatuan suku bangsa yang sedikit banyak terisolasi dengan yang lain. Mereka kemudian mengembangkan pola perilaku, bahasa, dan ikatan-ikatan kebudayaan lainnya yang berbeda.

2. Pengaruh Kebudayaan asing
Indonesia terletak pada posisi silang antara dua samudera, yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, serta dua benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia. Kondisi yang strategis ini menjadi daya tarik tersendiri bagi bangsa-bangsa asing untuk datang, singgah, dan menetap di Indonesia. Kedatangan bangsa-bangsa asing ini, ada yang untuk berdagang dan untuk menyebarkan agama yang dianutnya. Sejak 400 tahun SM, para pedagang Hindu dan Buddha dari India dan Tiongkok berdatangan ke Indonesia. Pada abad ke-13 pengaruh Islam mulai masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang dari Gujarat dan Arab. Sekitar abad ke-16, pengaruh Eropa mulai masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang dari Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda. Dari interaksi antarpedagang ini, menyebabkan terjadinya amalgamasi (perkawinan campuran) dan asimilasi budaya antara kaum pendatang dan penduduk asli. Akibatnya, mereka kemudian membentuk ras, subras, agama, dan kepercayaan yang berbeda-beda di Indonesia.

3. Iklim yang berbeda
Iklim yang berbeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lain di kawasan Indonesia menimbulkan kondisi alam yang berbeda. Kondisi ini akhirnya membentuk pola-pola perilaku dan sistem mata pencarian yang berbeda-beda pula. Akibatnya, terjadilah keanekaragaman regional antara daerah-daerah di Indonesia.
Dari kenyataan tersebut dapat kita katakan bahwa Indonesia adalah sebuah masyarakat yang beraneka ragam. Dengan keanekaragaman tersebut, potensi konflik antarkelompok masyarakat di Indonesia cukuplah besar. Bahkan di beberapa daerah, potensi konflik ini muncul dalam bentuk kekerasan yang berakibat pada kerusakan harta benda hingga hilangnya nyawa manusia. Potensi konflik ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor berikut.
  1. Harga diri dan kebanggan kelompok terusik.
  2. Pendirian atau sikap yang berbeda.
  3. Kebudayaan yang dimiliki tiap etnis berbeda.
  4. Kepentingan politik, ekonomi, dan kekuasaan berbenturan.
  5. Perubahan yang terlalu cepat sehingga mengganggu keseimbangan sistem dan keamanan.
Manfaat Keberagaman Sosial dan Budaya
Keberagaman sosial dan budaya yang ada di masyarakat terkadang menimbulkan berbagai permasalahan, karena itu permasalahan tersebut perlu disikapi dengan baik. Sikap masyarakat yang cenderung primordial dan tidak adil akan menjadi penghambat terciptanya masyarakat multikultural. Kondisi ini dapat diminimalisir atau mungkin dihilangkan apabila setiap kelompok masyarakat menyadari manfaat yang dapat dinikmati dari fakta keberagaman sosial budaya tersebut. Beberapa manfaat yang dapat dipetik dari adanya keberagaman ini adalah sebagai berikut.
  1. Perbendaharaan bahasa Indonesia dapat diperkaya oleh bahasa daerah sebagai salah satu unsur kebudayaan daerah.
  2. Potensi keberagaman budaya dapat dijadikan objek dan tujuan pariwisata Indonesia sehingga dapat mendatangkan devisa.
  3. Melalui hubungan yang harmonis antarmasyarakat kearifan budaya lokal dapat digali.
  4. Dengan keberagaman kita dapat duduk bersama saling menghargai dan saling membantu menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi.
  5. Keberagaman dapat mengajarkan suatu pandangan bahwa kebenaran itu tidak dimonopoli oleh satu orang atau satu kelompok saja. Masyarakat multikultur menganggap bahwa dengan saling mengenal dan saling menghargai budaya orang lain, dapat tercipta kehidupan yang penuh toleransi sehingga tercipta kehidupan masyarakat yang aman dan sejahtera.
  6. Keberagaman membuat masyarakat lebih toleran dan berfikiran terbuka. Keberagaman memungkinkan keyakinan yang berbeda dan sistem nilai untuk hidup berdampingan dan masyarakat pun lebih terbuka untuk berubah.
Dari uraian di atas, kita memahami bahwa keberagaman perlu disikapi dengan baik untuk menuju masyarakat yang damai dan sejahtera. Dalam hal ini bukan berarti tidak dihadapkan berbagai permasalahan, tetapi masalahmasalah itu akan tetap ada selama ada kehidupan di masyarakat.
Sekarang, mari kita amati dan kaji tentang keberagaman ini dari sebagian kecil masyarakat yang majemuk, contohnya keberagaman agama.

Keberagaman Agama dan Kepercayaan di Indonesia
Secara etimologis istilah agama berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu a yang berarti tidak, dan gamae yang berarti kacau, tidak teratur, atau tidak tetap. Jadi, secara harafiah agama berarti suatu yang tidak kacau, teratur, tetap atau kekal. Berdasarkan pengertian tersebut, defenisi agama berkembang menjadi suatu kepercayaan yang berisi norma-norma atau peraturan-peraturan bagaimana cara manusia berhubungan dengan Tuhan Yang Mahakuasa. Norma-norma tersebut bersifat kekal dan tidak mengalami perubahan.

Pitirim A. Sorokin, seorang sosiolog Amerika, mendefenisikan agama sebagai seperangkat nilai yang dinyatakan dalam wujud kepercayaan (credo) dan dalam bentuk ritual (cult). Hal ini disosialisasikan oleh perilaku yang sesuai dengan norma-norma agama yang menyatukan anggota dalam kelompok agama. 

Sementara itu, menurut Clifford Geertz, agama sebagai sistem simbol yang berfungsi untuk menenteramkan suasana hati dan memberikan motivasi yang kuat dan tahan lama dalam kehidupan manusia. Hal ini dicapai dengan menetapkan konsep-konsep atau merumuskan kepercayaan-kepercayaan tentang tatanan umum eksistensi manusia dan masyarakat serta membungkus konsep-konsep atau kepercayaan-kepercayaan itu seolah-olah sebagai sesuatu yang riil atau merupakan fakta sehingga suasana batin dan motivasi yang tercipta menjadi riil.

Dalam masyarakat Indonesia, agama memegang peranan penting. Hal ini tercermin dalam ideologi bangsa Indonesia, yaitu sila pertama Pancasila. Sila pertama berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa. Selain itu juga tertuang dalam UUD 1945 pasal 29 ayat 1 yang berbunyi negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya. Oleh karena itu, keberagaman agama dalam kehidupan sosial dan budaya merupakan anugerah Tuhan Yang Mahakuasa yang patut kita syukuri. Sangat tampak bahwa kedudukan agama bagi bangsa Indonesia sangatlah penting. 

Aspek-aspek Agama
Agama terdiri atas beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut antara lain sebagai berikut. 
1. Kepercayaan keagamaan
Setiap agama memiliki aspek kognitif. Agama membentuk cara pandang seseorang terhadap dunia. Cara pandang inilah yang kemudian memengaruhi cara pandang tiap individu untuk bertindak. Contohnya, jika seseorang percaya bahwa roh jahat ada di mana-mana maka ia akan selalu berusaha untuk melindungi diri dari roh-roh tersebut dengan berbagai cara.

Kepercayaan-kepereayaan ini akan memengaruhi seseorang dalam memandang kenyataan-kenyataan dan melakukan berbagai tindakan. Kepercayaan keagamaan ini akan mengajarkan tiap individu tentang apa yang baik dan buruk. Segala macam nilai, norma, dan perilaku merupakan perwujudan dari kepercayaan keagamaan seseorang. Dengan kata lain bahwa kepercayaan keagamaan merupakan suatu prinsip yang dianggap benar tanpa adanya keraguan.

2. Ritus-ritus keagamaan
Ritus keagamaan mencakup tindakan simbolis yang mengungkapkan makna religius. Ritus keagamaan merupakan salah satu bentuk ungkapan dan kepercayaan. Selain itu, ritus juga menjadi pemersatu kelompok sesuai dengan ajarannya. Tindakan-tindakan simbolis disebut ritus keagamaan bukan karena isi dari tindakan yang dilakukan melainkan karena arti atau makna yang diberikan atas tindakan itu oleh kelompok agama yang melaksanakannya.

3. Simbol keagamaan
Simbol dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang mengandung arti tertentu yang dikenal oleh anggota suatu kelompok masyarakat. Simbol mewakili sesuatu yang disimbolkan. Simbol merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam kehidupan beragama karena hubungan dengan yang Mahasuci tidak dapat dilakukan tanpa simbol-simbol. Melalui simbol-simbol itu, manusia mengungkapkan relasinya dengan Tuhan. Simbol keagamaan sekaligus menjadi identitas agama yang dianut umatnya. 

4. Pengalaman keagamaan
Pengalaman keagamaan merujuk pada semua pengalaman subjektif individu dalam berhubungan dengan Tuhan. Walaupun pengalaman itu pada dasarnya bersifat pribadi, pemeluk suatu agama berusaha untuk mengomunikasikan pengalaman itu melalui pengungkapan iman dan ritus tertentu. Contohnya, melalui doa atau meditasi. Jadi, sekalipun bersifat pribadi pengalaman keagamaan tetap mempunyai elemen sosial karena pengalaman tersebut memengaruhi seseorang dalam menginterpretasikan pengalaman personalnya.

5. Masyarakat agama
Masyarakat agama adalah penganut masing-masing agama. Komunitas umat beragama bisa terorganisasi secara formal dan dapat pula secara informal. Pengorganisasian secara formal bisa kita temukan dalam agamaagama besar, seperti Islam, Khatolik, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghuchu. Adapun pengorganisasian yang bersifat informal dapat ditemukan dalam agama-agama asli di masyarakat tradisional. Masyarakat keagamaan baik yang diorganisir secara formal maupun informal merupakan suatu keharusan apabila agama yang bersangkutan ingin tetap bertahan.

Agama dan Kepercayaan di Indonesia
Indonesia memiliki letak yang sangat strategis karena diapit oleh dua benua dan dua samudera. Hal tersebut menyebabkan Indonesia dalam sejarah masa lalu menjadi wilayah yang sangat penting dalam jalur perdagangan laut antarnegara. Sebelum kedatangan bangsa-bangsa asing ke Indonesia, penduduk asli Indonesia telah memiliki kepercayaan kepada sesuatu yang gaib, yakni kepada kekuatan-kekuatan yang menguasai alam dan kepada roh-roh nenek moyang. Kepercayaan yang mereka anut, antara lain animisme dan dinamisme. Kepercayaan asli masyarakat yang tersebar di seluruh Indonesia, antara lain Sunda Wiwitan di Lebak (Banten), Buhun di Jawa Barat, Kejawen di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, serta Kaharingan di Kalimantan.

Karena wilayah Indonesia yang strategis, bangsa asing dapat dengan mudah keluar masuk wilayah Indonesia. Bangsa asing ini adalah para pedagang yang datang dengan misi menyebarkan agama di Indonesia. Pedagang dari India menyebarkan agama Hindu dan Buddha, pedagang dari Gujarat menyebarkan agama Islam, pedagang dari Portugis menyebarkan agama Katolik, pedagang dari Belanda menyebarkan agama Kristen, dan pedagang dari Tiongkok menyebarkan agama Konghuchu. Agama-agama tersebut tumbuh subur di Indonesia dan sampai sekarang diakui sebagai agama resmi Indonesia.

Fungsi Agama
Agama merupakan suatu kekuatan yang pengaruhnya paling dirasakan dalam kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat. Agama mampu memengaruhi kehidupan manusia dalam segala aspek kehidupannya. Agama memiliki beberapa fungsi, di antaranya fungsi agama secara sosiologis.

Emil Durkheim, seorang sosiolog Perancis, terkenal akan pandangannya yang menyatakan bahwa agama mempunyai fungsi positif bagi integrasi masyarakat, baik pada tingkat mikro maupun tingkat makro. Pada tingkat makro, agama berfungsi membantu orang beriman mengetahui kebenaran yang tidak diketahui oleh orang yang tidak beriman. Selain itu, agama juga menjadikan seseorang lebih kuat. Dengan kata lain, agama membantu seseorang untuk hidup. Pada tingkat makro, agama mempunyai fungsi yang positif, yaitu memenuhi keperluan masyarakat ecara berkala menegak memperkuat perasaan dan ide kolektif yang menjadi ciri dan inti persatuan masyarakat. Melalui upacara agama yang dilakukan secara berjamaah, persatuan dan kebersamaan umat dipupuk dan dibina.

Prinsip Kesetaraan dalam Mensyukuri Keberagaman Agama
Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, perbedaan agama merupakan realitas soisial yang harus disikapi dengan bijaksana. Salah satu wujud sikap bijaksana tersebut adalah dengan mensyukuri keberagaman agama di Indonesia sebagai anugerah Tuhan Yang Mahakuasa. Agama diturunkan untuk mengatur kehidupan manusia agar dapat hidup selamat di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, keberagaman agama di Indonesia bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan melainkan dikelola dengan baik. Pengelolaan tersebut tidak hanya terbatas dalam undang-undang tetapi juga diwujudnyatakan dalam kehidupan konkrit di seluruh lapisan masyarakat. Selain itu, pengelolaan tersebut juga harus dilakukan secara struktural dan kultural dengan mengedepankan pola komunikasi yang dialogis dan sikap toleransi antarumat beragama.

Dalam tataran praktis, sikap menerima keberagaman beragama dalam kehidupan sehari-hari dapat diimplementasikan atau diwujudnyatakan dalam beberapa sikap, seperti kepedulian sosial, semangat kebangsaan, toleransi, kerja sama, saling menghargai, jujur, bersahabat, komunikatif, dan cinta damai. Oleh karena itu, setiap masalah dalam hubungan antarumat hendaklah diselesaikan dengan tuntas jangan ditutup-tutupi. Hanya dengan cara inilah maka kehidupan yang rukun dan serasi sebagai cita-cita setiap agama dapat terwujud. Hal ini dapat kita ciptakan jika kita mengedepankan prinsip kesetaraan. Prinsip kesetaraan mempunyai pandangan bahwa setiap orang hendaknya diperlakukan sama dan memiliki kesempatan yang sama.


EmoticonEmoticon