Friday, 21 September 2018

PENGERTIAN KARAKTERISTIK BENTUK DAN JENIS GEJALA SOSIAL

Tawuran Antar Pelajar

Pengertian Gejala Sosial
Gejala sosial adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi di antara dan oleh manusia, baik secara individu maupun secara kelompok (Gulo, 2010). Suatu peristiwa atau proses disebut gejala sosial karena perilaku oleh individu yang terlibat di dalamnya saling terkait. Menurut Durkheim, gejala sosial harus dipahami sebagai fakta obyektif di luar kehidupan subyektif individu. Gejala sosial antara lain mencakup gejala ekonomi, gejala politik, gejala budaya dan gejala moral.

Gejala sosial muncul dari aktivitas masyarakat. Aktivitas masyarakat mempunyai pengaruh yang lebih kuat daripada lingkungan geografis atau teknis dalam menentukan kegiatan individu. Masyarakat melalui kegiatannya menentukan keyakinan, keinginan, dan motif perilaku dari anggota mereka.

Contoh gejala sosial antara lain adalah kemiskinan, kejahatan, perang kewirausahaan, dan persamaan gender. Setiap gejala sosial menjadi dampak sekaligus penyebab dari gejala sosial yang lain. Misalnya, keyakinan agama mempengaruhi praktik ekonomi. Kepentingan ekonomi menentukan teori politik

Gejala sosial terjadi baik di perkotaan maupun di pedesaan. Memang ada beberapa perbedaan antara gejala sosial di perkotaan dan di pedesaan Masyarakat di pedesaan umumnya petani. Hanya beberapa warga masyarakat pedesaan yang melakukan kegiatan non-pertanian. Sementara itu masyarakat di perkotaan terutama melakukan kegiatan di bidang manufaktur, kegiatan mekanik, perdagangan, profesional dan pekerjaan non-pertanian lainnya. Di pedesaan kondisi alam masih mendominasi aktivitas manusia. Di perkotaan aktivitas manusia mendominasi lingkungan alam. Kepadatan penduduk di daerah pedesaan juga relatif lebih rendah daripada kepadatan penduduk di perkotaan. Heterogenitas dan homogenitas penduduk juga berbeda. Dibandingkan dengan perkotaan, umumnya masyarakat pedesaan relatif lebih homogen daripada masyarakat perkotaan. Diferensiasi sosial dan stratifikasi sosial masyarakat pedesaan juga lebih sederhana daripada diferensiasi dan stratifikasi yang terjadi di masyarakat perkotaan.

Gejala sosial berbeda dengan gejala alam. Gejala-gejala alam adalah peristiwaperistiwa yang berlangsung di alam dan bukan karena perbuatan manusia secara langsung. Misalnya, gempa bumi, meletusnya gunung berapi, dan banjir.

Karakteristik Gejala Sosial
Ada berbagai karakteristik gejala sosial. Di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Gejala sosial sangat kompleks. Hal ini terjadi di dalam masyarakat yang terbentuk dengan adanya hubungan sosial antarmanusia. Hubungan sosial ini terwujud dalam perilaku manusia terhadap sesamanya. Hubungan dan perilaku manusia ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain geografis, ekonomi, sosial, psikologis, politik, agama dan budaya. Faktor-faktor ini membuat perilaku manusia sangat bervariasi dan kompleks. Faktor-faktor ini juga tidak stabil dan tidak universal. Misalnya, faktor ekonomi tidak membawa pengaruh yang sama di semua tempat. Itulah sebabnya faktor-faktor ini tidak dapat dikontrol dengan sedemikian mudah.
  2. Gejala sosial beranekaragam. Gejala sosial tidak dapat dikelompokkan sesederhana gejala alam. Gejala alam dapat dikelompokkan dalam gejala benda padat, benda cair, dan gas. Gejala sosial menunjukkan berbagai macam sifat. Misalnya, gejala ekonomi, sosial, politik, agama, dan budaya. Keberagaman ini membuat gejala sosial sangat kompleks.
  3. Gejala sosial tidak bersifat universal. Gejala sosial berbeda dengan gejala alam yang bersifat universal. Universalitas gejala alam membuat hubungan kausal antargejala mudah dibentuk. Hal ini tidak dapat diterapkan dengan sebegitu mudah untuk gejala sosial. Hubungan manusia sangat banyak diatur oleh kondisi budaya. Ciri-ciri budaya berbeda-beda dalam kelompok sosial yang berbeda. Oleh karena itu, prinsip universalitas tidak dapat dengan mudah dirumuskan atas perilaku budaya manusia. Kita hanya bisa sampai pada beberapa kesimpulan formal dan umum.
  4. Gejala sosial bersifat dinamis. Pada gejala sosial, terjadi perubahan yang sangat cepat jika dibandingkan dengan gejala alam. Misalnya, model pakaian bisa berubah dengan cepat. Hal yang sama juga terjadi dengan perilaku kita.
  5. Gejala sosial tidak mudah dimengerti. Gejala alam mudah dipahami. Mereka dapat disentuh, dirasakan, dilihat, dan diukur. Hal yang sama tidak terjadi dalam kasus gejala sosial yang kompleks dan dinamis. Itulah sebabnya analisis ilmiah yang tepat dari perilaku dan hubungan antarmanusia jarang terjadi
  6. Gejala sosial kurang objektif. Gejala sosial memang berbeda dengan gejala alam yang cukup obyektif. Hal ini karena gejala fisika material dan konkret, sementara gejala sosial bersifat abstrak. Berbeda dengan ilmuwan fisika, peneliti sosial tidak dapat benar-benar menghindari subjeknya dalam kasus penelitian sosial. Peneliti sendiri adalah anggota masyarakat, komunitas atau kelompok mana dia melakukan penelitian. Oleh karena itu, wajarlah jika dia mungkin dipengaruhi oleh sifat subjek penelitiannya, dan tidak terbebaskan dari prasangka tertentu.
  7. Gejala sosial bersifat kualitatif. Gejala sosial, seperti hubungan sosial, perilaku, kebiasaan, tradisi dan kegiatan sosial umumnya tidak dapat diukur, ditimbang atau dihitung seperti fenomena alam. Sementara itu, gejala alam bersifat kuantitatif.
  8. Gejala sosial sulit diprediksi. Hal ini berbeda dengan ilmu alam. Dalam ilmu alam, prediksi mudah kita kita lakukan. Misalnya, waktu dan tanggal gerhana bulan dan matahari dapat diramalkan dengan tepat, sementara tidak ada prediksi yang tepat dapat dibuat untuk tren perubahan sosial di lembaga-lembaga sosial, seperti keluarga. Gejala sosial sulit diprediksi karena gejala sosial kompleks, abstrak, dinamis, kualitatif, dan spesifik. Hal ini sesuai dengan kodrat manusia. Manusia secara alami makhluk yang kompleks dan dinamis. 
Bentuk dan Jenis Gejala Sosial
Ada berbagai gejala sosial yang dapat ditemukan di dalam masyakat. Berbagai gejala sosial itu, menurut Guglielmo Carchedi, dapat dikelompokkan dalam bentuk gejala sosial yang menentukan (the determinant social phenomenon) dan bentuk gejala sosial yang ditentukan (the determined social phenomenon).

Gejala sosial yang menentukan merupakan bentuk gejala sosial yang mengkondisikan keberadaan gejala sosial yang ditentukan. Gejala sosial yang ditentukan merupakan bentuk gejala sosial yang menjadi kondisi reproduksi atau menggantikan gejala sosial yang menentukan. Misalnya, gejala sosial relasi kepemilikan menentukan gejala sosial akumulasi modal. Kapitalisme ditentukan oleh gejala sosial akumulasi modal.

Gejala-gejala sosial, menurut Pitirim A. Sorokin, dapat dikelompokkan dalam berbagai jenis. Di antaranya adalah sebagai berikut.
  1. Gejala sosial religius. Misalnya, suku Pygmy di daerah Katulistiwa Afrika melakukan suatu perayaan tahunan di akhir musim hujan dalam suatu upacara keagamaan. Kepala suku menari mengitari perapian. Tarian tersebut melambangkan perputaran matahari setiap hari. 
  2. Gejala sosial ekonomi. Misalnya, gejala menurunnya pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya pengangguran. Gejala ini menunjukkan bahwa perubahan mendasar dalam bidang ekonomi harus dilakukan.
  3. Gejala sosial politik. Misalnya, terjadinya praktik politik uang untuk memenangkan pemilu.
  4. Gejala sosial hukum. Misalnya, ketidakdisiplinan pengendara sepeda motor di jalan raya. 
Berdasarkan tingkatannya, menurut Norman Blaikie, ada tiga tingkatan gejala sosial. Tingkatan ini bervariasi dalam skala dari individu dan kelompok sosial kecil, organisasi dan masyarakat, sampai lembaga sosial berskala besar, seperti kota, negara dan badan-badan multi transnasional. Ketiga tingkat gejala sosial itu adalah sebagai berikut.
  1. Gejala sosial mikro terjadi pada individu-individu dalam kehidupan sosial sehari-hari. Kehidupan sosial ini biasanya ditandai dengan tatap muka. Dalam interaksi sosial ini, para aktor sosial memberikan makna bagi tindakan mereka sendiri dan tindakan orang lain yang terlibat. Selain itu, mereka membangun kontinuitas. Mereka juga memiliki sejarah bersama. Biasanya keanggotaan masayarakatnya relatif permanen, dan warganya mengembangkan serta mereproduksi pola, struktur dan institusi.
  2. Gejala sosial meso terjadi pada organisasi, masyarakat, massa dan gerakan sosial. Seperti kelompok sosial besar yang relatif permanen dengan tujuan yang ditetapkan, organisasi ini dapat berupa organisasi pemerintahan atau swasta, bisnis atau kesenangan. Hubungan sosial dalam organisasi ini sebagian besar bersifat sekunder. Keanggotaannya dapat terlaksana secara wajib. Misalnya, keanggotaan di penjara. Keanggotaannya juga dapat terlaksana secara sukarela. Misalnya, keanggotaan di sebuah klub olahraga. Keanggotaannya juga bisa penuh waktu atau paruh waktu, dibayar atau tidak dibayar, dan jangka panjang atau jangka pendek.
  3. Gejala sosial makro terjadi dalam entitas sosial yang lebih besar, seperti lembaga-lembaga multinasional. Misalnya, perusahaan transnasional, organisasi internasional non pemerintah, dan PBB Di sini batas-batas nasional dan regional menjadi kurang signifikan.


EmoticonEmoticon