Thursday, 4 October 2018

BENTUK BENTUK INTERAKSI SOSIAL BESERTA PENJELASANNYA

Interaksi Sosial

Proses Sosial yang Bersifat Asosiatif

Proses asosiatif meliputi bentuk-bentuk antara lain kerja sama akomodasi, asimilasi, dan akulturasi.

1. Kerja Sama
  Menurut Gillin, interaksi sosial berlangsung dalam dua jenis proses sosial, vaitu proses asosiatif dan proses disosiatif. Proses asosiatif mengarah pada bersatuan atau integrasi sosial. Sebaliknya, proses disosiatif, yang disebut juga proses oposisi, cara melawan seseorang atau sekelompok orang demi meraih tujuan tertentu.

Kerja sama dapat menjadi lebih erat karena ancaman bahaya dari pihak luar atau tindakan-tindakan dari pihak luar yang menyinggung kesetiaan yang telah tertanam baik dalam diri seseorang maupun sekelompok orang. Contohnya, kerja sama antarprajurit dalam satu kesatuan dapat terjalin ketika melawan musuh di medan perang.

Proses sosial yang erat kaitannya dengan kerja sama adalah konsensus. Konsensus hanya mungkin terjadi jika dua pihak atau lebih ingin memelihara dan masing-masing memandang hubungan tersebut sebagai kepentingan tersendiri. Keputusan untuk mengadakan konsensus timbul apabila anggota kelompok terlibat dalam perbedaan pendapat. Dalam konsensus, pertentangan kepentingan terlihat nyata, tetapi tidak sebesar dalam konflik.

Berdasarkan pelaksanaannya, kerja sama memiliki lima bentuk sebagai berikut :
  1. Kerukunan atau gotong royong.
  2. Bargaining, yaitu pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang atau jasa antara dua organisasi atau lebih. Dalam bergaining prinsip keadilan sangat ditekankan
  3. Kooptasi, yaitu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan dan pelaksanaan politik organisasi sebagai satu-satunya cara menghindari konflik yang dapat mengguncang organisasi.
  4. Koalisi, yaitu kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama. Koalisi dapat menghasilkan keadaan yang tidak stabil karena kedua organisasi memiliki struktur tersendiri.
  5. Joint venture, yaitu kerja sama dalam pengusahaan proyek tertentu, misalnya pertambangan minyak dan perhotelan.
Selain itu, beberapa ahli juga membagi kerja sama dalam beberapa bentuk berikut :
  1. Kerja sama spontan (kerja sama serta merta).
  2. Kerja sama langsung (hasil dari perintah atasan atau penguasa)
  3. Kerja sama kontrak (kerja sama atas dasar tertentu)
  4. Kerja sama tradisional (kerja sama sebagai bagian antarunsur dalam sistem sosial)
2. Akomodasi
Akomodasi memiliki dua pengertian, yakni sebagai keadaan dan sebagai roses. Akomodasi sebagai keadaan mengacu pada keseimbangan interaksi antarindividu atau antarkelompok berkaitan dengan nilai dan norma sosial yang berlaku. Akomodasi sebagai proses mengacu pada usaha-usaha manusia untuk meredakan pertentangan agar tercipta keseimbangan.

Akomodasi sebenarnya merupakan cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan lawan. Tujuan akomodasi berbeda-beda, tergantung pada situasi yang dihadapi. Beberapa tujuan akomodasi adalah sebagai berikut.
  1. Menghasilkan sintesis atau titik temu antara beberapa pendapat yang berbeda agar menghasilkan suatu pola baru. 
  2. Mencegah terjadinya pertentangan untuk sementara. 
  3. Mengadakan kerja sama antarkelompok sosial yang terpisah akibat faktor sosial dan psikologis atau kebudayaan. Contohnya, kerja sama antarindividu yang berbeda kasta. 
  4. Mengusahakan peleburan antarkelompok sosial yang terpisah, misalnyamelalui perkawinan.
Akomodasi sebagai sebuah proses mempunyai beberapa bentuk, yaitu sebagai berikut :
  1. Koersi, yaitu bentuk akomodasi yang prosesnya melalui paksaan secara fisik maupun psikologis. Dalam koersi, salah satu pihak berada dalam posisi yang lemah. Contohnya, dalam sistem perbudakan atau penjajahan. 
  2. Kompromi, yaitu bentuk akomodasi ketika pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian. Contohnya, seorang remaja meminta izin kepada orang tuanya untuk pulang jam sepuluh malam. Namun, orang tua menghendaki agar anaknya pulang pada pukul delapan. Mereka akhirnya berkompromi dan sepakat bahwa batas jam malam adalah jam sembilan. 
  3. Araserbit, yaitu cara untuk mencapai kompromi apabila pihak-pihak yang berhadapan tidak sanggup mencapainya sendiri. Pertentangan diselesaikan oleh pihak ketiga yang dipilih oleh kedua belah pihak atau badan yang berkedudukan lebih tinggi dari pihak-pihak yang bertentangan. Contohnya, masalah antara karyawan dan perusahaan tentang standar gaji diatasi dengan bantuan pemerintah yang menetapkan upah minimum. 
  4. Mediasi hampir menyerupai arbitrase. Dalam proses mediasi, kedudukan pihak ketiga hanya sebagai penasihat. Pihak ketiga tidak memiliki wewenang mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah, Misalnya: Indonesia menjadi mediator bagi terwujudnya perdamaian antara Korea Utara dan Korea Selatan. 
  5. Konsiliasi, yaitu usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginanpihak yang bertikai untuk mencapai suatu kesepakatan. Contohnya, mempertemukan wakil buruh dan perusahaan agar saling mengungkapkan keinginan mereka demi terciptanya kesepakatan bersama. 
  6. Toleransi, yaitu bentuk akomodasi yang terjadi tanpa persetujuan formal. Terkadang, toleransi timbul secara tidak sadar dan spontan akibat reaksi alamiah individu atau kelompok yang ingin menghindari perselisihan. Contohnya, ketika sekelompok umat beragama sedang beribadah, umat yang beragama lain tidak membuat keributan.
  7. Stalemate, terjadi ketika pihak-pihak yang bertikai memiliki kekuatan yang seimbang hingga akhirnya kedua pihak menghentikan pertikaian itu. Contohnya, perselisihan antara Amerika Serikat dan Iran terkait isu nuklir atau persaingan antara Blok Barat dan Blok Timur berhenti dengansendirinya tanpa ada pihak yang menang atau yang kalah. 
  8. Ajudikasi, yaitu cara menyelesaikan masalah melalui pengadilan. 
  9. Segregasi, yaitu bentuk akomodasi ketika masing-masing pihak memisahkan diri dan saling menghindar untuk mengurangi ketegangan. 
  10. Eliminasi, yaitu pengunduran diri salah satu pihak yang terlibat dalam konflik karena mengalah. 
  11. Subjugation atau domination, yaitu bentuk akomodasi ketika pihak yang kuat meminta pihak yang lebih lemah menaatinya. 
  12. Keputusan mayoritas, yaitu keputusan yang diambil berdasarkan suara terbanyak dalam voting. 
  13. Minority consent, yaitu kemenangan kelompok mayoritas yang diterima dengan senang hati oleh kelompok minoritas. Kelompok minoritas sama sekali tidak merasa dikalahkan dan sepakat untuk melakukan kerja sama dengan kelompok mayoritas. 
  14. Konversi, yaitu penyelesaian konflik ketika salah satu pihak bersedia mengalah dan mau menerima pendirian pihak lain. 
  15. Gencatan senjata, yaitu penundaan permusuhan dalam jangka waktu tertentu. 
3. Asimilasi
Asimilasi merupakan usaha untuk mengurangi perbedaan antarindividu atau antarkelompok guna mencapai satu kesepakatan berdasarkan kepentingan dan tujuan bersama. Menurut Koentjaraningrat, proses asimiliasi akan timbul jika ada kelompok-kelompok yang memiliki perbedaan kebudayaan. Selanjutnya, individu-individu dalam kelompok tersebut saling berinteraksi secara langsung dan terus-menerus dalam jangka waktu lama, sehingga kebudayaan masing-masing kelompok berubah dan saling menyesuaikan diri.

Faktor-faktor yang mempermudah proses asimilasi adalah sebagai berikut :
  1. Sikap toleransi.
  2. Kesempatan yang seimbang dalam ekonomi (tiap-tiap individu mendapat kesempatan yang sama untuk mencapai kedudukan tertentu atas dasar kemampuan dan jasanya). 
  3. Sikap menghargai orang asing dan kebudayaanya.
  4. Sikap terbuka dari golongan penguasa dalam masyarakat.
  5. Persamaan unsur kebudayaan.
  6. Perkawinan campuran (amalgamasi)
  7. Adanya musuh bersama dari luar
4. Akulturasi
Akulturasi adalah berpadunya dua kebudayaan yang berbeda dan membentuk suatu kebudayaan baru dengan tidak menghilangkan ciri kepribadian masing-masing. Contoh akulturasi adalah Candi Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan India dan kebudayaan Indonesia. Demikian juga musik keroncong yang merupakan perpaduan antara musik Portugis dan musik Indonesia.

Proses akulturasi dapat berjalan sangat cepat atau lambat, tergantung dari persepsi masyarakat setempat terhadap budaya asing yang masuk. Apabila budaya asing itu masuk melalui proses pemaksaan, maka akulturasi memakan waktu relatif lama. Sebaliknya, apabila budaya asing itu masuk melalui proses damai, akulturasi akan terjadi secara cepat.

Proses Sosial yang Bersifat Disosiatif
Proses disosiatif atau oposisi dibedakan ke dalam tiga bentuk, yaitu persaingan, kontravensi, dan pertentangan. Persaingan

Persaingan adalah perjuangan berbagai pihak untuk mencapai tujuan tertentu. Persaingan mempunyai dua tipe, yaitu bersifat pribadi dan bersifat nonpribadi. Tipe persaingan yang bersifat pribadi disebut juga dengan rivalry (rivalitas). Dalam rivalitas, individu akan bersaing secara langsung, misalnya persaingan para anggota untuk memperoleh kedudukan tertentu dalam sebuah organisasi.

Dalam persaingan yang bersifat nonpribadi, yang bersaing bukanlah individu, melainkan kelompok. Contoh persaingan nonpribadi adalah persaingan antara dua partai politik dalam merebut simpati rakyat, atau persaingan antara dua kesebelasan sepak bola untuk berebut kemenangan.

Tipe-tipe tersebut menghasilkan beberapa bentuk persaingan. Di antaranya persaingan di bidang ekonomi dan politik, persaingan untuk mencapai suatu kedudukan dan menjaga gengsi, serta persaingan ras.

Salah satu ciri dari persaingan adalah perjuangan yang dilakukan secara damai dan sportif (fair play), artinya, persaingan selalu menjunjung tinggi batasan dan aturan. Oleh karena itu, persaingan sangat baik untuk meningkatkan prestasi seseorang.

Kontraversi
Kontravensi pada hakikatnya merupakan bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan. Kontravensi ditandai dengan ketidakpuasan seseorang, perasaan tidak suka yang disembunyikan, kebencian, dan keragu-raguan terhadap kepribadian seseorang. Kontravensi cenderung bersifat rahasia. Perang dingin merupakan salah satu contoh kontravensi karena tujuannya membuat lawan tidak tenang atau resah. Dalam hal ini, lawan tidak diserang secara fisik tetapi secara psikologis.

Sikap tersembunyi seperti ini dapat berubah menjadi pertentangan atau pertikaian. Wujudnya dapat berupa protes, fitnah, maki-makian melalui surat selebaran, agitasi, subversi, teror, dan lain-lain.

Pertentangan
Pertentangan atau konflik adalah perjuangan individu atau kelompok sosial untuk memenuhi tujuan dengan cara menantang pihak lawan. Biasanya, konflik disertai dengan ancaman atau kekerasan. Konflik terjadi karena perbedaan pendapat, perasaan individu, kebudayaan, kepentingan, dan perubahanperubahan sosial yang cepat yang menimbulkan disorganisasi sosial. Perbedaanperbedaan ini akan memuncak menjadi pertentangan karena keinginan-keinginan individu tidak dapat diakomodasi. Akibatnya, tiap individu atau kelompok berusaha menghancurkan lawan dengan ancaman atau kekerasan.

Dalam pertentangan, hal yang paling banyak berperan adalah perasaan. Perasaan dapat mempertajam perbedaan sehingga masing-masing pihak berusaha saling menghancurkan. Contoh perasaan yang menimbulkan konflik adalah benci, sentimen, dan iri.

Pertentangan tidak selalu bersifat negatif. Pertentangan juga dapat menjadi alat untuk menyesuaikan norma-norma yang telah ada dengan kondisi baru yang sesuai dengan perkembangan masyarakat. Pertentangan dapat pula menghasilkan kerja sama karena masing-masing pihak dapat saling berintrospeksi dan memperbaiki diri. Contoh dampak positif pertentangan adalah perombakan aturan-aturan yang mengekang hak politik warga negara pada masa Orde Baru ke Orde Reformasi.


EmoticonEmoticon