Thursday, 15 November 2018

AGEN, BENTUK, TIPE, DAN POLA SOSIALISASI

Keluarga merupakan media sosialisasi dan enkulturasi
pertama yang memperkenalkan nilai-nilai dan
norma-norma budaya kepada individu.

Kita telah belajar tentang proses terjadinya sosialisasi dan pembentukan kepribadian. Anda mungkin bertanya siapakah agen sosialisasi itu, bagaimana bentuk, tipe, dan polanya. Kita akan menjawabnya dalam bagian ini. Sosialisasi sebagai sebuah proses transfer nilai dan norma memiliki agen, bentuk, tipe, dan pola.

Agen-Agen Sosialisasi
Dalam sosiologi, pihak-pihak yang melaksanakan sosialisasi disebut sebagai agen atau media sosialisasi. Fuller dan Jacobs mengidentifikasikan empat agen sosialisasi utama yang melaksanakan proses sosialisasi utama. Keempat agen atau media sosialisasi tersebut adalah keluarga, kelompok sebaya atau sepermainan, sekolah, dan media massa.

Keluarga
Pada masa awal kehidupan seseorang, agen sosialisasi terdiri atas orang tua dan saudara kandung. Namun dalam masyarakat yang mengenal sistem keluarga luas (extended family), agen sosialisasi tidak hanya kedua orang tua dan saudara kandung saja, tetapi juga paman, bibi, kakek, dan nenek. Demikian juga pada masa sekarang ini, pengasuh anak dan pekerja pada tempat penitipan anak yang tidak termasuk anggota keluarga juga berperan besar dalam proses sosialisasi seorang anak.

Gertrude Jaeger mengemukakan bahwa peran agen sosialisasi pada tahap awal (primer), terutama peran orangtua sangat penting. Pentingnya keluarga sebagai agen sosialisasi pertama terletak pada beberapa kemampuan penting yang diajarkan dalam tahap ini. Seorang bayi akan belajar berkomunikasi secara verbal dan nonverbal pada tahap ini. la belajar berkomunikasi melalui pendengaran, penglihatan, indera perasa, dan sentuhan fisik. Banyak ahli berpendapat bahwa kemampuan-kemampuan tertentu hanya dapat diajarkan dalam periode tertentu saja. Proses sosialisasi akan gagal jika proses itu terlambat dilakukan atau dilakukan terlalu dini.

Pada masyarakat modern, seorang anak sangat tergantung pada didikan dari orangtua atau keluarga. Melalui interaksi dalam keluarga, anak mempelajari pola perilaku, sikap, keyakinan, cita-cita, serta nilai dalam keluarga dan masyarakat. Contoh, pola perilaku dan sikap anggota keluarga yang cenderung disiplin akan mudah terinternalisasi dalam diri seorang anak sehingga menjadikannya bersikap disiplin. Akan tetapi, pengaruh orang tua yang sangat dominan terkadang dapat menimbulkan penyalahgunaan kekuasaan orangtua lernadap anaknya sendiri seperti penganiayaan dan pemerkosaan.

Kelompok Sebaya atau Sepermainan (Peer Group)
Setelah anak dapat berialan, berbicara, dan bepergian, ia mulai bertemu dan berinteraksi dengan teman sebayanya, yang biasanya berasal dan keluarga lain. Pada tahap ini, anak memasuki game stage, tase ketika la mural mempelajari berbagai aturan tentang peran orang-orang yang kedudukannya sederajat. Dengan bermain, ia mulai mengenal nilai-nilai keadilan, kebenaran, toleransi, atau solidaritas. Contohnya, bermain dengan teman tidak boleh curang atau mau menang sendiri.

Sekolah
Agen sosialisasi berikutnya adalah pendidikan formal atau sekolah. Di sini, seseorang akan mempelajari hal baru yang tidak diajarkan di dalam keluarga maupun kelompok sepermainannya. Sekolah mempersiapkannya untuk peranperan baru di masa mendatang saat ia tidak bergantung lagi pada orangtua.

Sekolah tidak saja mengajarkan pengetahuan dan keterampilan yang memengaruhi perkembangan intelektual anak, tetapi juga hal lain seperti kemandirian, tanggung jawab, dan tata tertib. Robert Dreeben berpendapat bahwa yang dipelajari anak di sekolah, di samping membaca, menulis, dan berhitung-adalah aturan mengenai kemandirian (independence), prestasi (achievement), universalisme (universalism), dan spesifisitas (specificity).

Menurut Robert Dreeben, seorang anak harus belajar mandiri di sekolah. Apabila di rumah seorang anak dapat mengharapkan bantuan orang tuanya dalam melakukan berbagai pekerjaan, maka sebagian besar tugas di sekolah harus dilakukan sendiri. Ketergantungan pada orang tua yang dijumpai di rumah tidak terdapat di sekolah. Guru menuntut kemandirian dan tanggung jawab pribadi dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah. Kerja sama dalam kelas hanya dibenarkan bila tidak melibatkan penipuan atau kecurangan, seperti menyontek pada saat ujian.

Media Massa
Media massa terdiri dari media cetak (surat kabar atau majalah) dan media elektronik (radio, televisi, internet, film, kaset, dan CD). Media massa merupakan bentuk komunikasi dan rekreasi yang menjangkau banyak orang.

Minat anak-anak terhadap siaran televisi yang menayangkan berbagai jenis film membuat media ini begitu dominan dalam proses sosialisasi. Hal ini disebabkan anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menonton televisi dibandingkan belajar. Penayangan film-film keras dan brutal melalui televisi dapat menimbulkan perilaku keras dan agresif pada anak-anak. Iklan yang ditayangkan di televisi pun mempunyai potensi memicu perubahan pola konsumsi atau gaya hidup masyarakat.

Bentuk Sosialisasi
Sosialisasi dapat kita bagi ke dalam dua bentuk, yakni sosialisasi primer dan sosialisasi sekunder. Donald Light, Suzanne Keller, dan Craig Callhoun mengemukakan bahwa setelah seseorang mendapatkan sosialisasi dini atau sosialisasi primer (primary socialization), maka selanjutnya ia akan mendapatkan sosialisasi sekunder (secondary socialization).

1. Sosialisasi primer adalah sosialisasi pada tahap awal kehidupan seseorang sebagai manusia. Berger dan Luckman menjelaskan sosialisasi primer sebagai sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil, ketika ia belajar menjadi anggota masyarakat. Sosialisasi primer dipelajari dalam keluarga. Sosialisasi primer akan memengaruhi seorang anak untuk dapat membedakan dirinya dengan orang lain di sekitarnya, seperti ayah, ibu, kakak, dan adik.

2. Sosialisasi sekunder adalah proses berikutnya yang memperkenalkan individu ke dalam lingkungan di luar keluarganya, seperti sekolah, lingkungan bermain, dan lingkungan kerja.

Dalam proses sosialisasi sekunder sering dijumpai proses resosialisasi atau proses sosialisasi ulang dalam masyarakat. Proses ini teriadi jika halvand telah disosialisasikan dalam tahap sosialisasi primer berbeda dengan sosialisasi sekunder. Proses resosialisasi didahului dengan proses desosialisasi atau proses pencabutan hal-hal yang telah dimiliki oleh individu seperti nilai dan norma

Erving Goffman menyatakan bahwa peristiwa resosialisasi dan desosialisasi di dalam sebuah bentuk total institusi. Proses resosialisasi dapat dilihat tika seorang murid SMP masuk ke dalam lingkungan SMA. Mereka m oalami proses resosialisasi yang didahului oleh desosialisasi, misalnya dengan mengganti pakaian putih biru menjadi putih abu-abu dan menjalani proses orientasi ketika teman-teman senior maupun guru menjelaskan tentang peraturan di SMA yang berbeda dengan peraturan di SMP.

Tipe Sosialisasi
Setiap kelompok masyarakat memiliki standar nilai yang berbeda. contoh, standar seseorang yang disebut baik di sekolah dan di kelompok copermainan tentu berbeda. Di sekolah, misalnya, seseorang disebut baik apabila nilai ulangannya di atas tujuh atau tidak pernah terlambat masuk sekolah. Sementara di kelompok sepermainan, seseorang disebut baik apabila solider dengan teman atau saling membantu.

Perbedaan standar dan nilai pun tidak terlepas dari tipe sosialisasi yang ada. Terdapat dua tipe sosialisasi, yaitu sebagai berikut.
  1. Formal. Sosialisasi tipe ini terjadi melalui lembaga-lembaga yang berwenang menurut ketentuan yang berlaku dalam negara, seperti pendidikan di sekolah dan pendidikan militer.
  2. Informal. Sosialisasi tipe ini terdapat di masyarakat atau dalam pergaulan yang bersifat kekeluargaan, seperti pergaulan sesama teman, sahabat, anggota klub, dan kelompok-kelompok sosial di dalam masyarakat.
Baik sosialisasi formal maupun informal tetap mengarah pada pertumbuhan pribadi anak agar sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di lingkungannya. Dalam lingkungan formal seperti di sekolah, seorang siswa bergaul dengan teman sekolahnya dan berinteraksi dengan guru dan karyawan sekolah. Dalam interaksi tersebut, ia mengalami proses sosialisasi dan siswa akan disadarkan tentang peran apa yang harus ia lakukan. Siswa juga diharapkan memiliki kesadaran untuk menilai dirinya sendiri. Misalnya, apakah saya ini termasuk baik dan disukai teman atau tidak? Apakah perilaku saya sudah pantas atau belum?

Meskipun proses sosialisasi dipisahkan secara formal dan informal, namun hasilnya sangat sulit untuk dipisah-pisahkan karena individu biasanya mendapat sosialisasi formal dan informal sekaligus.

Pola Sosialisasi
Getrude Jaeger membagi sosialisasi ke dalam dua pola, yaitu pola Sosialisasi represif dan pola sosialisasi partisipatoris. 

1. Sosialisasi represif menekankan pada penggunaan hukuman terhadap kesalahan. Ciri lain dari sosialisasi represif adalah penekanan pada penggunaan materi dalam hukuman dan imbalan; penekanan pada kepatuhan anak pada orangtua; penekanan pada komunikasi yang bersifat satu arah, nonverbal dan berisi perintah; penekanan sosialisasi terletak pada orangtua dan pada keinginan orangtua; dan peran keluarga sebagai significant others. 

2. Sosialisasi partisipatoris (participatory socialization) merupakan pola dengan ciri pemberian imbalan ketika anak berperilaku baik. Selain itu, hukuman dan imbalan bersifat simbolik. Dalam proses sosialisasi ini anak diberi kebebasan. Penekanan terletak pada interaksi dan komunikasi yang bersifat lisan. Pusat sosialisasi adalah anak dan keperluan anak, sedangkan keluarga menjadi generalized others.


EmoticonEmoticon