Saturday, 8 December 2018

TEORI PERILAKU MENYIMPANG BESERTA CONTOHNYA

Perilaku remaja yang menurut masyarakat menyimpang.
Perilaku Menyimpang adalah Suatu perilaku dikatakan menyimpang apabila tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat selalu berusaha agar setiap anggotanya berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Namun, pada kenyataannya, kita selalu menjumpai anggota masyarakat yang berperilaku menyimpang. Contohnya, menyontek, melakukan tawuran, merampok, mencuri, membunuh, menganiaya, menculik, menggunakan narkoba, atau melakukan korupsi. Dalam skala yang lebih kecil, perilaku menyimpang juga termasuk pelanggaran terhadap kebiasaan atau kepantasan, seperti siswa yang bolos sekolah atau pemuda yang mabuk-mabukan

Menurut para sosiolog, penyimpangan bukan sesuatu yang melekat pada bentuk perilaku tertentu, melainkan diberi ciri penyimpangan melalui definisi sosial. Definisi tersebut dapat bersumber dari kelompok yang berkuasa dalam masyarakat atau dari masyarakat umum. Contohnya, seseorang var mengenakan pakaian renang di sekolah akan terlihat aneh dan dianggap tir wajar. Namun, hal itu tidak dianggap perilaku menyimpang jika orang tersebi mengenakan pakaian renangnya ketika berada di kolam renang atau pantai

Teori-Teori Perilaku Menyimpang
Edwin H. Sutherland
Sutherland mengemukakan sebuah teori yang dinamakannya differentia association theory. Menurutnya, penyimpangan bersumber pada pergau dengan orang yang berperilaku menyimpang. Penyimpangan dipela! melalui proses alih budaya. Melalui proses belajar ini, seseorang mempel suatu budaya menyimpang. Contohnya, seorang remaja mengisap 99 karena bergaul dengan kelompok remaja yang sudah terlebih dar mengisap ganja. seorang remaja yang bertingkah laku beringas di jalan memerlukan proses pembelajaran dengan sesama anggota geng motornya

Edwin M. Lemert
Lemert menamakan teorinya labelling theory. Menurut Lemert, seseorang menjadi penyimpang (deviant) karena proses labelisasi (pemberian julukan atau cap) oleh masyarakat terhadap orang tersebut. Proses ini bisa membuat seseorang yang tadinya tidak memiliki kebiasaan menyimpang menjadi terbiasa. Bahkan, kebiasaan itu kemudian menjadi gaya hidupnya. Contohnya, seorang siswa yang satu kali lupa mengerjakan pekerjaan rumah langsung dijuluki pemalas oleh guru. Julukan ini didengar teman-temannya. Sejak saat itu, julukan pemalas melekat padanya. Karena selalu dijuluki pemalas, ia malah mengulangi perbuatan itu terus-menerus.

Lebih lanjut, Lemert mengembangkan gagasan tentang penyimpangan primer dan penyimpangan sekunder untuk menjelaskan proses pelabelan.

1. Penyimpangan primer, yaitu perilaku menyimpang yang dilakukan seseorang namun pelakunya masih dapat diterima secara sosial. Pelaku penyimpangan ini umumnya tidak menyadari bahwa dirinya melakukan penyimpangan. Mereka belum dilabeli oleh masyarakat sebagai penyimpang (deviant). Ciri penyimpangan primer adalah sifatnya sementara, tidak berulang, dan dapat ditolerir masyarakat. Contohnya, seorang siswa yang terlambat masuk sekolah karena ban sepeda motornya bocor, seseorang yang menunda pembayaran pajak karena alasan keuangan yang tidak mencukupi, atau pengemudi kendaraan bermotor yang sesekali melanggar rambu-rambu lalu lintas.

2. Penyimpangan sekunder, yaitu perilaku menyimpang yang tidak dapat ditolerir masyarakat. Penyimpangan itu dilakukan oleh seseorang secara berulang-ulang dan terus menerus. Akibatnya, seluruh masyarakat akan memberi label negatif kepada orang tersebut sebagai penyimpang (deviant). Orang tersebut kemudian menerima label yang telah dilekatkan orang kepadanya. Ia kemudian melihat dirinya sebagai seorang penyimpang dan bertingkah laku sesuai dengan stigma yang dilekatkan masyarakat terhadapnya. Contohnya, mabuk-mabukan, menggunakan obat terlarang, berjudi, dan melakukan korupsi. Penyimpangan ini dapat dilakukan secara individu maupun kelompok. Masyarakat pada umumnya tidak bisa menerima dan tidak menginginkan orang-orang yang melakukan penyimpangan ini berada di lingkungannya.

Robert K. Merton
Berbeda dengan Sutherland dan Lemert yang melihat perilaku menyimpang dari kajian interaksi sosial (mikro), Merton melihat perilaku menyimpang dari sudut pandang yang lebih luas (makro), yaitu dari struktur sosial. Menurut Merton, struktur sosial tidak hanya menghasilkan konformitas (perilaku yang sesuai dengan nilai dan norma masyarakat), tapi juga perilaku menyimpang. Struktur sosial menghasilkan pelanggaran terhadap aturan sosial dan menekan orang tertentu ke arah perilaku nonkonformis.

Dalam struktur sosial dan budaya, ada tujuan atau sasaran budaya yang disepakati oleh anggota masyarakat. Tujuan budaya adalah sesuatu yang "pantas anlain. Untuk mencapai tujuan tersebut, struktur sosial dan budaya mengatur cara yang harus ditempuh dan aturan ini bersifat membatasi. Merton menyatakan wanwa perilaku menyimpang terjadi karena tidak adanya kaitan antara tujuan dengan cara yang telah ditetapkan dan dibenarkan oleh struktur sosial.

Lebih jauh, Merton mengidentifikasi lima cara adaptasi individu terhadap Situasi tertentu. Empat dari kelima tipe tersebut merupakan perilaku menyimpang.

1. Konformitas (conformity)
Pada cara adaptasi ini, perilaku seseorang mengikuti cara dan tulus yang telah ditetapkan masyarakat. Contohnya, seorang kepala ru tangga ingin memperoleh penghasilan untuk menghidupi keluaro (tujuan yang ditetapkan masyarakat). Tujuan itu dicapainya dengan bekerja di suatu perusahaan (cara yang tersedia dalam masyarakat).

2. Inovasi (innovation)
Pada cara adaptasi ini, perilaku seseorang mengikuti tujuan yang ditentukan masyarakat dengan menggunakan cara yang dilaran masyarakat. Contohnya, seorang kepala rumah tangga yang ing mendapatkan penghasilan tambahan untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya melakukan korupsi. Mendapatkan penghasilan untuk menghidupi keluarga merupakan tujuan yang ditentukan oleh masyarakat. Namun, korupsi merupakan cara yang tidak dibenarkan masyarakat Contoh lain, siswa yang ingin mendapatkan nilai bagus dalam ujian melakukan berbagai cara, seperti menyontek.

3. Ritualisme (ritualism)
Pada cara adaptasi ini, perilaku seseorang telah meninggalkan tujuan budaya, tetapi tetap berpegang pada cara yang telah ditetapkan oleh masyarakat. Contohnya, seorang karyawan dari kalangan menengah ke bawah tidak ingin naik jabatan karena takut gagal atau seorang karyawan yang tetap membaktikan dirinya untuk suatu pekerjaan yang membosankan, meskipun pekerjaan tersebut tidak memiliki prospek karier dan hanya memberikan gaji yang kecil. Tujuan budaya yang ada di masyarakat (mencapai kesuksesan) tidak dikejar oleh karyawan itu. Tapi, cara yang telah ditetapkan oleh masyarakat tetap ia lakukan, yaitu dengan bekerja (bekerja adalah cara yang ditetapkan masyarakat untuk mencapai kesuksesan). Ritualis menerima gaya hidup kerja keras, tetapi menolak tujuan budaya seperti hadiah uang. Individu ritualis bekerja keras, namun tidak berkomitmen untuk mengumpulkan kekayaan atau kekuasaan.

4. Retretisme (retreatism)
Pada cara adaptasi ini, perilaku seseorang tidak mengikuti tujuan dan cara yang dikehendaki masyarakat. Dalam pola adaptasi ini seseorang ingin menarik diri dari masyarakat. Menurut Merton, pola adaptasi ini dapat dilihat dalam diri para gelandangan, pemabuk, dan pecandu narkoba. Orang-orang tersebut ada di dalam masyarakat, tetapi tidak menjadi bagian dari masyarakat.

5. Pemberontakan (rebellion)
Pada cara adaptasi ini, orang tidak lagi mengakui struktur sosial yang ada dan berupaya menciptakan struktur sosial yang baru. Contohnya, pada tahun 1998, demonstrasi mahasiswa berhasil menurunkan Soeharto aan rezim Orde Barunya. Orde Baru merupakan struktur sosial yang antara oleh mahasiswa, sedangkan Orde Reformasi merupakan struktur sos yang didambakan. Cara mengganti kepemimpinan negara adalah " sidang MPR. Namun, cara ini ditolak oleh para mahasiswa. Mereka memilih menggunakan cara demonstrasi untuk mengganti kepemimpinan soeharto.


EmoticonEmoticon